Pages

Rabu, 10 Juni 2026

Sejarah Simbol "@" yang Menjadi Bagian Penting di Era Digital

Simbol “@” kini melekat erat dengan kehidupan digital sehari-hari. Setiap kali kita mengirim e-mail, maka tanda kecil yang dibaca “at” itu otomatis muncul di antara nama pengguna dan domain, tanpa banyak dipikirkan lagi maknanya. Demikian pula ketika platform media sosial twitter (sekarang X) diluncurkan di dunia maya yang kemudian disusul dengan berbagai platform media sosial lainnya seperti instagram, youtube, tiktok dan sejenisnya yang juga menggunakan simbol "@" ini sebagai bagian dari nama sebuah akun ataupun sebagai simbol untuk menandai (mention) suatu akun.

Padahal, sebelum menjadi ikon penting di era internet, simbol “@” sempat terabaikan, jarang digunakan, dan bahkan nyaris tidak masuk dalam sejarah komunikasi digital modern. Menariknya, pemilihan simbol “@” sebagai bagian dari alamat e-mail bukanlah hasil perencanaan matang sejak awal. Ia justru muncul dari keputusan sederhana, bahkan bisa dibilang kebetulan, yang diambil pada awal 1970-an.

Pemilihan simbol “@” dalam alamat e-mail bermula dari kebutuhan teknis yang sederhana. Ray Tomlinson, seorang insinyur komputer asal Amerika Serikat, menciptakan sistem e-mail pertama pada 1971 saat bekerja di BBN Technologies, perusahaan yang terlibat dalam proyek ARPANET, cikal bakal internet modern.

Saat itu, Tomlinson diminta untuk mengembangkan cara mengirim pesan dari satu komputer ke komputer lain dalam jaringan. Agar pesan sampai ke pengguna yang tepat di mesin yang tepat, ia perlu memisahkan “nama orang” dan “nama komputer” dalam satu alamat.

Tomlinson pun mencari simbol pemisah yang tidak menimbulkan konflik dengan sistem. Huruf, angka, serta tanda baca umum seperti titik, koma, dan garis miring langsung ia singkirkan karena sudah memiliki fungsi sendiri dalam sistem operasi. Beberapa simbol lain, termasuk tanda sama dengan (=), sempat dipertimbangkan. Namun simbol-simbol tersebut dinilai ambigu dan berisiko bentrok dengan sintaks yang ada.

Pilihan akhirnya jatuh pada simbol “@”, yang kala itu hampir tidak memiliki fungsi khusus di dunia komputer. Selain jarang digunakan, simbol ini memiliki makna yang sangat relevan. Dalam bahasa Inggris, “@” dibaca at atau “di”, seperti pada penulisan “10 items @ $1”. Dalam konteks e-mail, alamat yourname@example.com dapat dimaknai sebagai “yourname di example.com”, yakni seorang pengguna berada di dalam sebuah sistem atau domain tertentu. Tomlinson menilai simbol “@” paling tepat karena sesuai secara semantik sekaligus aman secara teknis.

Dalam berbagai wawancara sebelum wafat pada 2016, ia menyebut simbol tersebut tidak memiliki arti lain dalam sistem komputer, sehingga kecil kemungkinan menimbulkan konflik. Kombinasi makna dan fungsi inilah yang membuat “@” menjadi kandidat ideal.

Pada awalnya, sistem e-mail ciptaan Tomlinson hanya digunakan secara internal di lingkungan riset. Namun, seiring berkembangnya internet, format alamat e-mail dengan simbol “@” menyebar luas dan diadopsi oleh berbagai sistem. Ketika layanan e-mail publik mulai bermunculan, seperti Hotmail, Yahoo Mail, hingga Gmail, struktur alamat ini tetap dipertahankan. Secara teknis, format e-mail kemudian dibakukan dalam protokol SMTP, yang masih digunakan hingga saat ini. Alamat e-mail pun terdiri dari tiga bagian utama yaitu nama pengguna (local part), simbol “@” sebagai pemisah, dan nama domain.

0 komentar

Posting Komentar